I hereby grant all DeviantArtists permission to use my stock in any and all Deviant Prints without restriction.
Rules: Read First
1.
Do not use for pornographic, racist, hate towards people/group purpose.
2.
Do not just change color/saturation/filter and submit it to photography category.
3.
Link back to me by putting :
devmacheli: or :
iconmacheli: in the description of your deviation.
4.
Send a note or comment on the stock if you use. Posting a shout in my page is not recommended since I might lose it.
5. Free to use outside of deviantART and or for commercial purpose
as long as you give credit.
6. You
must not in any way shape or form use my stock for tubing, layouts, banners, copying, editing, publishing or redistribution without my full written permission.
7. Other rules will be added when felt necessary.
Violation of said rules will result in removal of work.
I'm here to help so help me to help you, mkay?
---
Pernah dengar kata-kata "rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri"? Saya baru aja merenungkan kata-kata itu dan saya sampai pada kesimpulan bahwa kenyataan bahwa rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri adalah karena kita kurang mengairi rumput sendiri. Rumput tetangga tidak begitu saja menjadi lebih hijau. Dan rumput kita tidak begitu saja menjadi lebih tidak hijau. Semua tergantung bagaimana kita mengurus dan mengairi halaman kita sendiri.
Banyak orang yang kabur dan memilih masuk ke halaman tetangga karena rumput tetangga terlihat lebih hijau dan mereka menginginkan hijau tersebut. Tapi sebenernya mereka tidak akan mendapatkan hijau tersebut karena rumput itu hijau bukan karena itu milik tetangga, tapi karena rumput itu diairi. Malah masuk ke halaman orang sebenarnya berisiko sekali; bukannya dapet rumput yang lebih hijau, bisa-bisa malah dapet halaman yang lebih gersang daripada halaman sendiri.
Dari pemikiran di atas (yang kayanya agak-agak membingungkan), saya lalu jadi mikir, gimana cara mengairi rumput sendiri supaya menjadi hijau lagi dan lebih hijau daripada rumput tetangga?
Saya bisa bilang, dalam satu hubungan kegaringan itu terjadi terutama karena lack of understandings: salah paham, saling tidak percaya, saling tuding, dsb. Cara pertama untuk mengatasi ini adalah dengan menyadari bahwa pasangan kita BERBEDA dengan kita. Pasangan kita adalah individu yang tidak sama, tidak pernah sama, dan tidak akan pernah sama dengan kita. Pernah denger kata-kata "women are from Venus, men are from Mars"? Nah, sebenernya kata-kata itu berarti, you and him/her are pretty much not the same. And you and him/her have to realise this in any of your relationship if you really wanna make it work out and last.
Hubungan yang benar adalah hubungan yang pertama kali dilandasi oleh kesadaran bahwa dia berbeda, dia bukan diriku, dan dia tidak akan pernah menjadi sama seperti diriku. Dan hubungan yang benar dan sukses adalah hubungan yang selalu diwarnai dengan kesadaran tersebut, dan saling memahami dan mempertemukan perbedaan masing-masing. Kalau kita terus berpikir bahwa dia sama dengan kita, lama-lama kita akan kecewa karena sedikit demi sedikit kita akan tau bahwa dia tidak sama dengan kita. Dan lalu kita akan mulai sedikit-sedikit melirik rumput tetangga (yang katanya lebih hijau) dan selanjutnya bisa kamu kira-kira sendiri.
Banyak orang berpikir, "Ah dia dulu sama kok denganku.. kita punya banyak kesamaan.. tapi sekarang engga.. dia berubah!" tapi sebenernya apakah betul perasaan itu? Atau perasaan itu hanya timbul karena kita belum benar-benar mengenal pasangan kita?
Intinya adalah.. don't ever start a relatonship thinking that he/she's much the same with you karena itu hanya akan membuatmu stres dan frustrasi setiap kali dia berbeda darimu. Itu hanya akan membuatmu menuntut sesuatu yang bukan dirinya. Itu hanya akan membuatnya menjadi orang lain.
Start a relationship thinking that he/she's different with you. Dari situlah kita bisa menapak step selanjutnya untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. In the end, kita akan merasa lengkap karena kita dan pasangan kita bisa saling melengkapi. Itu yang dinamakan: mencintai apa adanya.
Pemikiran ini akan saya tutup dengan sebuah cerita dari Chicken Soup.
==================================================
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?" dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah. Kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan". Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya. Tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan. Jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan mengubah pikiran saya. Seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati; apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya dia tidak ada di rumah dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan, "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC dan akhirnya menangis di depan monitor; saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi "aneh", dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu; saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu."
"Sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.